Kisah Sahabat Nabi Said Bin ‘Amir Al Jumahi

6 min read

Said-bin-Amir
Advertisements

“Said bin  ‘Amir  Adalah Seorang yang Sanggup Membeli Akhirat dengan  Dunia. Ia Adalah Orang  yang Mendahulukan  Allah Dan Rasul-Nya Daripada Siapapun.” (Ahli Sejarah)

Seorang pemuda bernama  Said bin ‘Amir Al Jumahi adalah salah satu dari  ribuan  orang  muallaf  yang datang  dari  daerah  Tan’im daerah  luar Mekkah demi memenuhi  undangan  para  pemuka  Quraisy untuk menyaksikan pembunuhan Khubaib bin ‘Ady salah seorang sahabat Muhammad setelah mereka berhasil menangkap Khubaib dengan cara menipunya.

Jiwa muda dan kekuatan yang dimilikinya membuat Said mampu menerobos kumpulan  manusia  saat itu, sehingga  ia dapat  berdiri  sejajar dengan  para  pemuka  Quraisy  seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah dan lainnya yang menyaksikan pemandangan  saat itu.

Kesempatan  itu  membuat   Said  dapat   melihat  para   tawanan   suku Quraisy yang sedang terikat. Tangan para wanita, anak-anak  dan pemuda mendorong tubuh Said masuk ke arena pembunuhan, di tempat para suku Quraisy melakukan balas dendam kepada Muhammad  lewat diri Khubaib, dan sebagai balas dari para anggota suku Quraisy yang mati dalam perang Badar.

Saat kerumunan  yang sesak itu sampai ke tempat pembunuhan dengan membawa  tawanan.  Berdirilah pemuda  yang bernama  Said bin ‘Amir Al Jumahy  dengan  tegaknya  dihadapan   Khubaib. Ia menyaksikan  Khubaib berjalan  ke arah  kayu  yang  telah  dipancangkan.

Said mendengar  suara Khubaib yang tenang diantara  jeritan dan teriakan para wanita dan anak- anak.

Khubaib   berkata:   “Dapatkah    kalian   mengizinkan   aku   untuk melakukan shalat dua rakaat terlebih dahulu…?” Said lalu memperhatikan Khubaib saat ia menghadap kiblat dan melakukan shalat dua rakaat. Betapa bagus dan sempurna dua rakaat shalat yang dikerjakannya…

Said  juga  memperhatikan   saat  Khubaib  menghadap   para   pemuka Quraisy seraya berkata: “Demi Allah, kalau kalian tidak menduga  bahwa aku akan memperpanjang  shalat karena merasa takut mati, pasti aku akan memperbanyak bilangan shalat tadi.”

Said menyaksikan kaumnya dengan kedua mata kepalanya saat mereka memotong bagian  tubuh Khubaib yang masih hidup.

Mereka  memotong setiap bagian tubuh Khubaib sambil berkata kepadanya: “Apakah kau ingin Muhammad  menggantikan  posisimu ini dan engkau akan selamat karenanya?”

Ia menjawab  padahal  darah  mengalir  di sekujur  tubuhnya:  “Demi Allah, aku  lebih  suka  menjadi  pengaman  dan  meninggalkan  istri  dan anakku, daripada Muhammad di tusuk dengan duri.”

Maka  semua  manusia   yang  hadir   saat  itu  mengacungkan   tangan mereka ke langit, seraya berteriak sengit: “Bunuh dia… bunuh dia!”

Lalu Said bin ‘Amir menyaksikan dengan mata kepalanya senidir bahwa Khubaib mengangkat  pandangannya  ke langit dari atas tiang kayu seraya berdo’a:

“Allahumma ahshihim adadan waqtulhum badadan wa la tughadir minhum ahadan (Ya Allah, hitunglah satu demi satu mereka semua. Bunuhlah mereka secara kejam. Janganlah kau sisakan satu orangpun dari mereka.”

Khubaibpun meniupkan nafasnya yang terakhir. Pada tubuhnya banyak sekali bekas luka pedang dan tombak yang tidak bisa dihitung manusia.

Suku Quraisy pun telah kembali ke Mekkah, dan mereka semua sudah lupa akan bangkai tubuh dan proses pembunuhan Khubaib.

Akan tetapi dalam diri seorang pemuda  yang hampir  baligh bernama

Said bin ‘Amir Al Jumahy tidak pernah hilang bayangan Khubaib sesaatpun.

Said sering  kali melihat  Khubaib di kala tidur.  Saat terjagapun,  Said sering  melihatnya  dengan  ilusi. Tergambar  di  benak  Said saat  Khubaib melakukan shalat dua rakaat yang begitu tenang dan nikmat didepan kayu yang terpancang.

Said mendengar getaran suara Khubaib di telinganya saat Khubaib berdo’a untuk  kehancuran suku Quraisy. Said menjadi khawatir terkena  petir  dibuatnya,  atau  takut  terkena  hujan  batu  yang  jatuh  dari langit karenanya.

Lalu Khubaib seperti telah mengajarkan  Said apa yang belum diketahui sebelumnya….

Khubaib  mengajarkannya   bahwa  hidup  yang  sesungguhnya   adalah akidah dan jihad di jalan akidah hingga mati.

Khubaib  mengajarkannya   bahwa  iman  yang  mantap  akan menimbulkan banyak keajaiban dan mukjizat.

Khubaib juga mengajarkannya  hal lain, yaitu bahwa pria yang dicintai oleh para  sahabatnya  dengan  cinta  seperti ini tiada  lain  adalah  seorang Nabi yang didukung oleh langit.

Pada saat itu pula, Allah Swt melapangkan  dada Said bin Amir untuk memeluk Islam. Maka ia berjalan menghampiri  kerumunan  manusia  dan mengumumkan   keterlepasan   dirinya   dari   perbuatan   dosa yang  telah dilakukan suku Quraisy.

Dan ia berikrar akan meninggalkan segala berhala yang  pernah disembahnya  dan  ia  mengumumkan bahwa  ia  telah  masuk Islam.

Said turut  ikut berhijrah  ke Madinah, dan ia senantiasa mendampingi Rasulullah Saw. Ia pun turut dalam perang Khaibar dan perang-perang lain setelah itu.

Setelah Nabi Saw kembali keharibaan  Tuhannya, Said menjadi pedang terhunus  bagi Khalifah pengganti Rasul yaitu Abu Bakar dan Umar, dan ia menjadi  satu-satunya   contoh  bagi  orang   yang beriman   yang  berniat membeli kehidupan  akhirat dengan dunianya.

Ia rela mendahulukan  Allah dan pahala yang akan diberikan daripada  semua keinginan nafsu syahwat badan.

Kedua khalifah Rasulullah Saw mengetahui dengan baik kebenaran dan ketaqwaan  yang dimiliki oleh Said. Mereka berdua  sering mendengarkan dengan serius setiap nasehat dan ucapan Said.

Said mendatangi  Umar saat Umar baru menjadi khalifah. Said berkata kepadanya: “Ya Umar, Aku berwasiat kepadamu agar engkau takut kepada Allah dalam urusan  manusia, dan janganlah engkau takut kepada manusia dalam  urusan  Allah.

Ucapanmu  jangan  pernah  menyalahi  perbuatanmu, sebab ucapan yang terbaik adalah yang dibenarkan oleh perbuatan….

Ya  Umar,   perhatikanlah    dengan   baik   orang   yang   telah   Allah percayakan  kepadamu  urusannya dari kaum muslimin baik mereka yang jauh  ataupun  yang dekat. Cintailah mereka  sebagaimana engkau menyayangi dirimu dan keluargamu.

Buatlah mereka membenci apa yang engkau  dan keluargamu   benci.  Goncanglah  kumpulan   manusia untuk menuju   kebaikan,  dan  janganlah  engkau  khawatir   terhadap   kecaman orang selagi di jalan Allah.”

Umar pun bertanya: “ Siapa yang mampu melakukan itu, wahai Said?” Said menjawab: “Yang mampu melakukan itu adalah orang sepertimu yang telah diberikan Allah kepercayaan untuk mengurusi  permasalahan  ummat Muhammad. Tidak ada lagi jarak antara orang seperti dengan Allah.

Sejurus kemudian  Umar mengajak  Said untuk  menjadi salah seorang pembantunya  seraya berkata: “Ya Said, Kami mengangkatmu  menjadi wali (gubernur) daerah  Himsh.” Said menjawab:  “Ya Umar, Demi Allah janganlah engkau menimpakan  fitnah (ujian) padaku.”

Umar pun menjadi berang seraya berkata: “Celaka kalian… kalian meletakkan kepemimpinan ini di leherku, kemudian kalian mau lepas tangan dariku!!

Demi Allah, aku tidak  akan  membiarkanmu.” Kemudian Umar  mengangkat  Said menjadi wali di daerah  Himsh seraya bertanya:  “Bolehkah kami menentukan  gaji

buatmu?”   Said  menjawab:  “Apa  yang  akan  aku  lakukan  dengan  gaji tersebut  wahai  Amirul Mukminin?!  Sebab gaji dari  baitul  maal melebihi kebutuhanku.”  Dan akhirnya Said pun berangkat ke Himsh.

Sedikit sekali uang  yang dibawa oleh Said bin ‘Amir hingga  tiba saat datangnya  beberapa  orang  dari  penduduk   Himsh  yang  dipercaya  oleh Amirul Mukminin.

Amirul Mukminin  berkata  kepada  mereka: “Tuliskan nama-nama  orang miskin kalian sehingga dapat aku cukupkan kebutuhannya!”

Mereka  pun  melaporkan   data  yang  mereka  miliki  di dalamnya terdapat  nama fulan, fulan dan Said bin ‘Amir. Umar bertanya kepada  mereka: “Siapakah Said bin ‘Amir ini?” Mereka menjawab:  “Dia adalah   pemimpin  kami.”

Umar  bertanya:  “Pemimpin  kalian  termasuk orang fakir?” Mereka menjawab: “Benar, Demi Allah lama waktu berjalan namun  di rumahnya  tidak  ada  tungku  api  menyala.”  Maka meledaklah tangis Umar hingga air matanya membasahi janggut.

Kemudian Beliau mengumpulkan  uang sebanyak 1000  dinar  dan ditaruhnya  dalam sebuah ikatan   seraya  berkata:   “Sampaikanlah   salamku  padanya   dan   katakan padanya  bahwa  Amirul Mukminin  mengirimkan  uang  ini untukmu  agar semua kebutuhanmu  tercukupi.”

Datanglah  utusan  tadi  kepada  Said dengan  barang  bawaannya.  Said melihat  bungkusan  itu  dan ternyata  di dalamnya  terdapat  banyak  uang dinar.

Ia menolaknya  seraya berkata: “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun- seolah ia terkena musibah-  lalu datanglah  istrinya tergopoh-gopoh  sambil bertanya:  “Ada apa  Said, apakah  Amirul  Mukminin  telah wafat?”

Said menjawab:  “Bahkan lebih dahsyat  dari  itu.” Istrinya bertanya  lagi: “Apa yang lebih dahsyat dari itu?” Ia menjawab: “Dunia sudah merasuki diriku untuk  merusak akhiratku.

Dan kini fitnah sudah menyebar di rumahku.” Istrinya berkata:  “Kalau begitu, campakan  saja hal  itu padahal  istrinya tidak tahu tentang uang dinar tadi.”

Said bertanya: “Maukah kamu menolongku untuk  melakukannya?” Istrinya menjawab: “Ya.” Maka Said mengambil uang dinar tadi dan ia membaginya dalam beberapa bungkusan kemudian ia bagikan kepada kaum muslimin yang fakir.

Tidak lama berselang, datanglah  Umar ra ke beberapa daerah di Syam untuk memeriksa kondisi penduduknya.

Saat ia tiba di Himsh dan daerah ini disebut Al Kuwaifah  sebagai panggilan kecil bagi kota Kufah, dan untuk mempersamakan    daerah    Himsh   dengan    Kufah   karena    banyaknya penduduk  yang mengeluhkan  kinerja  para  pegawai dan  wali di wilayah mereka.

Sebagaimana yang sering terjadi di Kufah Saat Umar tiba di sana, beberapa penduduk menghampiri Umar untuk memberikan sambutan terhadapnya.

Umar  lalu  bertanya  kepada  mereka:  “Bagaimana  pendapat kalian  tentang  Amir (pemimpin)  di sini?” Mereka  mengadukan  keluhan kepada Umar dan mereka menyebutkan 4 kekurangan  Amir mereka, setiap 1 masalah lebih besar dari lainnya.

Umar berkisah: Maka akupun mengumpulkan  Amir mereka yaitu Said bin Amir dengan orang-orang tadi. Dan aku berdo’a kepada Allah agar  dugaanku  tidak dibuat salah; karena aku menaruh kepercayaan besar kepada Said.

Saat mereka dan pemimpinnya sudah tiba menghadapku,  aku bertanya: “Apa yang kalian keluhkan dari amir kalian?” Mereka menjawab: “Ia tidak keluar bekerja sehingga hari sudah amat siang.” Aku bertanya: “Apa komentarmu  dalam  hal  ini,  ya  Said?” Ia  terdiam  sejenak  lalu  berkata: “Demi Allah tadinya aku tidak mau mengatakan hal ini.

Namun karena ini harus disampaikan maka akupun  akan menceritakannya.  Aku tidak punya pembantu  di rumah.  Setiap kali aku bangun  di pagi hari, maka aku harus menumbuk  gandum  buat keluargaku.  Kemudian aku harus  mengaduknya dengan  perlahan  sehingga  ia menjadi  ragi. Lalu aku  buatkan  roti untuk keluargaku. Kemudian aku berwudhu dan keluar untuk mengurusi permasalahan manusia.”

Umar  bertanya:  “Lalu apa  lagi yang  kalian  keluhkan  terhadapnya?” Mereka  menjawab:   “Ia  tidak mau  melayani  seorangpun   pada   waktu malam.” Umar bertanya: “Apa komentarmu  dalam hal ini, wahai Said?”

Ia menjawab: “Demi Allah, Sungguh aku juga sungkan  untuk  menceritakan hal  ini…  Aku telah membagi  waktu  siangku  untuk  berkhidmat  dalam urusan mereka, dan waktu malamku untuk Allah Swt.”

Umar bertanya lagi: “Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?” Mereka menjawab:  “Ada satu  hari  dalam sebulan  dimana  ia tidak  keluar  untuk mengurusi  kami.” Umar bertanya:  “Apa maksudnya  ini, wahai Said?” Ia menjawab: “Aku tidak memiliki pembantu,  wahai Amirul Mukminin.

Dan aku   tidak  memiliki   baju   kecuali   yang   sedang   aku   pakai   ini.   Aku mencucinya  sebulan sekali dan aku menunggunya  hingga ia kering. Dan pada penghujung hari, baru aku dapat keluar menemui mereka.”

Umar bertanya lagi: “Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?” Mereka menjawab: “Sering kali ia hilang kesadaran,  sehingga ia tidak mengenali orang yang berada di sekelilingnya.” Umar bertanya: “Apa maksudnya hal ini, ya Said?!” Ia menjawab: “Aku menyaksikan pembunuhan Khubaib bin

‘Ady pada saat itu aku musyrik, dan aku melihat para  penduduk  Quraisy memotong jasadnya  dan  mereka  bertanya  kepada  Khubaib: ‘Apakah kau ingin  Muhammad  menggantikanmu  di sini?’

Ia menjawab:  ‘Demi  Allah, aku tidak suka merasa aman dengan istri dan anakku, padahal Muhammad sedang dicucuk dengan duri….’ Dan aku selalu teringat akan hari itu dan mengapa aku tidak menolongnya sehingga aku menduga bahwa Allah tidak mengampuniku… maka akupun hilang kesadaran karenanya.

Saat itu  Umar  langsung  berkata:  “Segala puji  bagi  Allah yang  telah membuat  dugaanku  kepadanya tidak  rusak.”  Kemudian  Umar mengirimkan  1000  dinar  untuknya  agar dapat memenuhi  segala kebutuhannya.  Begitu istri Said melihat  uang  tersebut,  maka  ia berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah mencukupkan  kami lewat khidmat yang kau berikan.

Belilah segala kebutuhan  hidup  kita. Dan carilah  seseorang yang  mau  diupah   sebagai  pembantu!”     Said  berkata  kepada  istrinya: “Apakah kau punya  sesuatu yang lebih baik dari  itu?” Istrinya bertanya: “Apakah  itu?”

Said berujar:  “Kita kembalikan  lagi  kepada  orang  yang membawanya, dan hal itu lebih kita butuhkan?” Istrinya bertanya lagi: “Apakah itu?” Ia menjawab: “Kita pinjamkan  uang tersebut kepada Allah sebagai qardhan hasanan (pinjaman yang baik).”

Istrinya menanggapi: “Benar. Dan engkau akan dibalas dengan kebaikan karenanya.”

Setelah  ia  meninggalkan   majlis  maka  ia  membagikan  uang   dinar tersebut  dalam  beberapa bungkus  dan  ia  berkata  kepada  salah  seorang anggota  keluarganya:  “Bawalah  ini  kepada  janda fulan,  yatim  fulan,  si miskin fulan dan si fakir fulan.

Semoga Allah meridhoi Said bin ‘Amir Al Jumahy. Beliau adalah salah seorang sosok yang mampu mendahulukan kepentingan  orang lain, meski ia berada dalam kondisi yang mendesak.

Baca juga kisah Sahabat Nabi Anas bin Malik Al Anshary

Untuk dapat mengenal sosok Said bin ‘Amir Al Jumahy lebih jauh dapat merujuk ke:

  1. Tahdzib Al Tahdzib 4/51
  2. Ibnu Asakir 6/145-147
  3. Sifatus Shafwah 1/273
  4. Hilliyatul Auliya 1/244
  5. Tarikhul Islam 2/35
  6. Al Ishabah 2/48  atau profil 3270
  7. Nasabu Quraisyin 399

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: