Kisah Sahabat Nabi Al Thufail Bin ‘Amr Al Dausy

7 min read

Advertisements

“Allahumma Ij’alhu Ayatan Tu’inuhu Ala Ma Yanwi Minal Khair (Ya Allah Berikanlah Untuknya Satu Tanda Kekuasaan yang Dapat Membantunya Mengerjakan Kebaikan yang Telah Ia Niatkan.” (Salah Satu Do’a Rasul Saw Untuknya)

Al Thufail bin ‘Amr Al Dausy adalah  pemimpin  kabilah  ‘Daus’ pada masa jahiliah. Dia adalah salah satu sosok pemuka Arab yang berpengaruh, dan salah seorang tokoh yang terhormat…

Tungku tidak pernah  diturunkan  dari perapian  baginya, dan tidak ada pintu yang tertutup baginya…

Ia gemar memberi makan orang yang lapar, memberi rasa aman bagi orang yang ketakutan dan melindungi orang yang memohon perlindungan.

Ditambah  lagi dia adalah  sosok yang beradab,  cerdas  dan  pintar.  Ia adalah seorang penyair yang memiliki perasaan yang peka dan lembut. Dia amat   mengerti   dengan   manis  dan   pahitnya   pembicaraan…   sehingga kalimat yang diucapkannya mengandung  bobot magis bagi yang mendengarnya.

Al  Thufail  meninggalkan   rumah   tinggalnya   di  Tihamah3     menuju Mekkah. Kala itu pergumulan masih terus berlangsung  anyara  Rasulullah Saw dengan para kafir Quraisy. Masing-masing pihak membutuhkan pendukung dan sahabat…

Rasul Saw berdo’a kepada Tuhannya  dan yang menjadi senjata Beliau adalah keimanan dan kebenaran. Sedang kafir Quraisy menentang dakwah Rasul  dengan  segala  jenis  senjata,  dan  mereka  berusaha  menghalangi manusia dari Beliau dengan cara apapun.

Al Thufail mendapati dirinya telah berada dalam peperangan  itu tanpa persiapan apapun dan ia turut serta di dalamnya tanpa sengaja…

Baca juga Kisah Sahabat Nabi SAW: Said bin ‘Amir Al Jumahi

Ia tidak  datang  ke Mekkah dengan  tujuan  ini, dan  tidak  ada  dalam benaknya urusan Muhammad dan Quraisy.

3 Daerah pinggir laut di Jazirah Arab yang sejajar dengan Laut Merah

Dari sini maka dimulailah sebuah hikayat yang tak pernah terlupa bagi Al Thufail bin ‘Amr Al Dausy; Mari kita simak kisah ini, karena ia adalah sebuah kisah yang aneh.

Al Thufail mengisahkan: “Aku tiba di Mekkah. Begitu para  pemimpin Quraisy  melihatku,   mereka   mendatangiku   dan   mereka   menyambutku dengan begitu mulia. Dan mereka memposisikan diriku dengan begitu terhormat.

Lalu para  pemimpin  dan  pembesar  mereka  berkata  kepadaku:  “Ya Thufail. Engkau telah  datang  ke  negeri  kami.  Ada seorang  disini  yang mengaku  bahwa  ia adalah  seorang Nabi yang telah merusak  urusan  dan mencerai-berai  persatuan serta jama’ah kami.

Kami khawatir ia dapat mengganggumu dan mengganggu kepemimpinanmu pada kaummu sebagaimana  yang telah  terjadi  pada  diri  kami.

Maka janganlah  engkau berbicara  dengannya,  dan  janganlah  kau  dengar  apapun  dari pembicaraannya; sebab ia memiliki ucapan  seperti seorang penyihir: yang dapat memisahkan  seorang anak dari ayahnya, dan seorang saudara  dari saudaranya, dan seorang istri dari suaminya.”

Al Thufail berkata: “Demi Allah, mereka terus saja menceritakan kepadaku  tentang  keanehan  kisah  Muhammad.  Mereka  membuat  diriku dan   kaumku   menjadi   takut   dengan   keajaiban   perilaku  Muhammad.

Sehingga akupun  bertekad  untuk  tidak mendekat  kepadanya,  dan  untuk tidak berbicara atau mendengar apapun darinya.

Saat aku datang ke Masjid untuk berthawaf di Ka’bah, dan mengambil berkah   dengan   para   berhala   yang   ada   di   sana   sebagaimana   kami melakukan  haji  kepadanya  untuk  mengagungkan   berhala-berhala  tadi, akupun menutup telingaku dengan kapas karena khawatir telingaku mendengar sesuatu dari perkataan Muhammad.

Akan tetapi  bagitu  aku  masuk  ke  dalam  Masjid  aku  mendapati  ia sedang berdiri  melakukan  shalat dekat Ka’bah bukan  seperti shalat yang biasa kami lakukan. Ia melakukan ibadah bukan seperti ibadah yang biasa kami kerjakan. Aku senang melihat pemandangan  ini.

Aku menjadi tercengang dengan ibadah yang dilakukannya. Aku mulai mendekat kepadanya. Sedikit demi sedikit tanpa disengaja sehingga aku begitu dekat dengannya…

Kehendak Allah berbicara lain sehingga ada beberapa ucapannya  yang hinggap  di telingaku.  Aku mendengar  pembicaraan  yang baik. Dan aku berkata dalam diri sendiri: “Celaka kamu wahai Thufail… engkau adalah seorang yang cerdas dan seorang penyair.

Dan engkau dapat membedakan antara  yang baik dan yang buruk.  Lalu apa yang menghalangimu  untuk mendengar  apa  yang  diucapkan  orang  ini…  Jika yang  dibawa  olehnya adalah  kebaikan maka akan aku terima, jika itu adalah  keburukan  maka akan aku tinggalkan.”

Al Thufail masih mengisahkan: “Kemudian aku masih terdiam sehingga Rasulullah Saw kembali ke rumahnya.  Aku mengikuti Beliau dan begitu ia masuk ke dalam rumahnya,  akupun  turut  masuk.

Aku berkata: “Ya Muhammad,   kaummu   telah   menceritakanmu   kepadaku   bahwa   kamu begini dan begitu. Demi Allah, mereka terus-menerus  membuatku khawatir dari  mu sehingga aku menutup kedua  telingaku  dengan  kapas agar  aku tidak mendengarkan  ucapanmu.

Kemudian kehendak  Allah berkata  lain, sehingga aku mendengar sebagian dari ucapanmu, dan aku mengaggap hal itu adalah baik… maka ceritakanlah urusanmu  padaku…!

Beliau  menceritakan   urusannya   kepadaku.  Beliau juga  membacakan untukku   surat  Al Ikhlas  dan Al Falaq. Demi  Allah, aku  tidak  pernah mendengar  sebuah  ucapan  yang lebih baik daripada  ucapan Beliau. Dan aku tidak pernah melihat urusan yang lebih lurus daripada urusannya.

Pada saat itu, aku bentangkan  tanganku  kepadanya, dan aku bersaksi bahwa  tiada  Tuhan  selain  Allah dan  bahwa  Muhammad  adalah  utusan Allah. Dan akupun masuk Islam.

Al Thufail  berkata:  “Aku  tinggal  beberapa  lama  di  Mekkah  untuk mempelajari  Islam dan  aku  selama itu aku  menghapal  beberapa  ayat Al Qur’an yang mudah bagiku.

Begitu aku berniat kembali ke kampungku aku berkata: “Ya Rasulullah, Aku adalah seseorang yang dipatuhi di keluargaku. Saat ini aku  mau  kembali kepada  mereka  dan  menjadi  penyeru  mereka kepada  Islam.

Berdo’alah kepada  Allah agar  ia memberikan  aku  sebuah tanda  kekuasaan-Nya  yang dapat  menjadi penolongku  dalam berdakwah kepada  mereka.  Maka  Rasul  langsung  berdo’a:  “Allahumma ij’al lahu ayatan (Ya Allah jadikanlah untuknya sebuah tanda kekuasaan).”

Aku pun mendatangi  kaumku, sehingga jika aku tiba di sebuah tempat yang  tinggi  di  sekitar  rumah  mereka  maka  turunlah   sebuah  cahaya  di antara  kedua mataku  seolah sebuah lampu.

Aku pun  berdo’a: “Ya Allah, jadikanlah ia bukan pada wajahku,  sebab aku khawatir  mereka menduga bahwa ini adalah hukuman yang ditimpakan ke wajahku karena aku meninggalkan  agama mereka… maka cahaya tadi bergeser dan turun  ke pegangan cambukku.

Maka para manusia yang ada saat itu mencoba untuk melihat   cahaya   tadi   yang   berada   di cambukku   seolah   lampu   yang tergantung.  Dan aku datang menghampiri  mereka dari lembah.

Begitu aku turun   ayah  menghampiriku   –Beliau  saat  itu  sudah   amat  renta-   Aku berkata:  “Kita sudah  tidak  berhubungan  lagi.  Aku bukan  milikmu  dan engkau  bukan  milikku.” Ia bertanya:  “Mengapa  begitu, wahai  anakku?” Aku menjawab: “Aku telah masuk Islam dan mengikuti agama Muhammad Saw”  Ia  berkata:  “Duhai   anakku,   agamaku   adalah   agamamu.”

Maka akupun  berkata:  “Kalau begitu,  mandilah  dan  bersihkanlah  pakaianmu. Lalu kemarilah agar aku mengajarkan  apa yang pernah aku pelajari.” Lalu Beliau mandi  dan  membersihkan  pakaiannya,  kemudian  Beliau  datang menghampiriku   sehingga   aku   paparkan   Islam  kepadanya   dan   iapun memeluk  Islam.

Kemudian  istriku  datang  dan  aku  berkata  kepadanya: ““Kita sudah  tidak  berhubungan  lagi.  Aku bukan  milikmu  dan  engkau bukan   milikku.”     Ia  bertanyaL  “Mengapa   demikian?   Demi  ibu  dan bapakku.”

Aku menjawab: “Islam telah memisahkan antara kita. Aku telah masuk Islam dan mengikuti agama Muhammad  Saw.” Ia berkata: “Kalau begitu, agamaku  adalah  agamamu.”  Aku berkata: “Bersucilah dengan  air Dzu Syara4!” Ia bertanya: “Demi ibu dan  bapakku,  apakah  engkau  tidak khawatir terkena musibah dari Dzu Syara?!”

Aku menjawab: “Celaka kamu dan Dzu Syara… aku katakan kepadamu: pergilah dan mandilah di sana di tempat yang jauh dari pandangan  manusia. Aku jamin pasti batu yang tuli itu tidak dapat melakukan apapun kepadamu.”

Iapun   berangkat   dan   mandi.   Kemudian  ia  datang   lagi  dan   aku paparkan  Islam kepadanya sehingga  iapun  mau  memeluknya.  Kemudian aku  berdakwah  kepada  penduduk  Daus namun mereka  tidak  menjawab dengan segera ajakan ini kecuali Abu Hurairah  dan Beliau adalah manusia yang paling dulu masuk Islam dari mereka.”

Al Thufail berkata:“Aku mendatangi Rasulullah Saw di Mekkah dan aku mengajak Abu Hurairah saat itu… Nabi Saw bertanya kepadaku: “Apa yang ada di belakangmu  wahai  Thufail?” Aku menjawab: “Hati yang tertutup, dan  kekafiran  yang dahsyat.

Di daerah  Daus kefasikan dan  kemaksiatan telah merajalela.” Lalu Rasulullah Saw berdiri, berwudhu lalu shalat dan ia mengangkatkan   tangannya   ke langit.  Abu  Hurairah   berkata   saat  itu: “Ketika aku melihat Beliau melakukan  hal itu aku khawatir Beliau mendo’akan kaumku sehingga mereka dapat binasa…

Maka  akupun  berkata:  “Ya kaumku….”  Akan tetapi  Rasulullah Saw berdoa:  “Ya Allah berilah petunjuk  bagi kaum  Daus… Ya Allah berilah petunjuk  bagi kaum Daus… Ya Allah berilah petunjuk bagi kaum Daus.” Lalu Beliau menoleh  ke  arag  Thufail  seraya  bersabda:  “Kembalilah  ke kaummu   dan  berlaku   haluslah   kepada   mereka   dan   ajaklah   mereka memeluk Islam!”

Al Thufail berkata:  Aku masih  saja terus  berdakwah  di daerah  daus hingga   Rasulullah   Saw  berhijrah    ke   Madinah.    Meletuslah   perang Badr,Uhud, dan Khandaq. Aku datang menghadap  Nabi dengan membawa

80   kepala  keluarga   dari   daerah   Daus  yang  telah  masuk  Islam  dan menjalankan  keislamannya dengan baik. Rasulullah Saw menjadi gembira karenanya,  dan  Beliau membagikan  kepada  kami jatah  ghanimah  (harta rampasan  perang) Khaibar5. Lalu kami berkata: “Ya Rasulullah, jadikanlah kami  pasukan   tempur   sisi kanan   dalam  setiap  peperangan   yang  kau lakukan. Dan jadikanlah semboyan kami: “Mabrur”

4 Dzu Syara adalah berhala bagi penduduk  Days yang disekelilingnya terdapat air yang mengalir dari gunung.

Al Thufail masih  berkisah:  “Aku terus  mendampingi  Rasulullah Saw hingga  Beliau menaklukkan  Mekkah.  Akupun  berkata:  “Ya Rasulullah, Kirimlah aku  ke Dzul Kafain sebuah  berhala  milik ‘Amr bin  Hamamah sehingga aku dapat membakarnya… Rasulpun mengizinkan Thufail untuk melakukan   itu;  dan  ia  berangkat   menuju   berhala   itu  dengan  sebuah pasukan yang terdiri dari para kaumnya.

Begitu ia sampai di sana dengan tekad bulat untuk  membakar berhala itu.   Rupanya   banyak   wanita,  pria   dan   anak-anak    yang   menunggu datangnya  musibah  bagi diri Thufail. Mereka juga menunggu datangnya petir jika Thufail berani mendekat kepada Dzul Kafain.

Akan tetapi Thufail terus   mendekat  ke   arah   berhala   itu   dengan   disaksikan   oleh   para penyembah berhala… ia menyalakan api amarah di hatinya… seraya membacakan mantra:

Wahai Dzul Kafain aku bukanlah termasuk para penyembahmu

Kami lahir lebih dahulu daripada dirimu

Aku akan mengisi api dalam hatimu

Seiring api melahap berhala tersebut, maka terlahap juga kemusyrikan yang ada di kabilah  Daus. Seluruh  kaumnya  masuk ke dalam Islam dan mereka melaksanakan keislamannya dengan baik.

Al Thufail bin ‘Amr Al Dausy setelah itu terus mendampingi Rasul Saw hingga Beliau kembali ke sisi Tuhannya.

Begitu  kekhalifahan   diserahkan   kepada  Abu  Bakar  As Shiddiq,  Al Thufail meletakkan diri, pedang  dan anaknya  untuk  taat kepada khalifah Rasulullah Saw.

Tatkala pecah peperangan terhadap kaum murtad, Al Thufail berangkat dalam barisan terdepan  kaum muslimin untuk memerangi Musailamah Al Kadzab. Dan ia ditemani oleh anaknya yang bernama ‘Amr.

Saat dalam perjalanan  menuju  Al Yamamah, Thufail bermimpi dan ia berkata kepada para sahabatnya: “Aku mendapatkan  sebuah mimpi, ta’birkanlah   oleh   kalian   mimpi   tersebut   untukku!”

Para   sahabatnya bertanya:  “Apa  mimpimu   itu?”  Ia  menjawab:  “Aku  bermimpi   bahwa kepalaku dicukur,  dan  ada seekor burung  keluar  dari  mulutku,  dan  ada seorang  wanita  yang memasukkan aku  ke dalam  perutnya.  Dan  anakku

‘Amr mengejarku  dengan  cepat  namun  ada  penghalang  diantara  kami.” Para  sahabatnya  berkata:  “Mungkin  akan  membawa  kebaikan.”  Thufail

5 Khaibar: adalah sebuah oase di negeri hijaz yang dihuni oleh bangsa Yahudi

berkata:   “Demi  Allah  aku   telah   mencoba   mentakwilkannya:   adapun kepalaku  yang tercukur  itu berarti  bahwa  ia akan  terpotong.  Sedangkan burung yang keluar dari mulutku maka itu adalah ruhku… Adapun wanita yang memasukkan aku ke dalam perutnya adalah bumi dimana aku dikuburkan…

Aku berharap  dapat terbunuh  sebagai syahid…. Sedangkan anakku yang mengejar diriku itu berarti bahwa ia juga mencari kesyahidan seperti yang akan  aku dapatkan  –jika Allah mengizinkan- akan  tetapi ia akan mendapatkannya  pada kesempatan selanjutnya.

Dalam peperangan  Al Yamamah seorang sahabat agung yang bernama Al Thufail bin ‘Amr Al Dausy tertimpa ujian yang begitu besar, sehingga ia jatuh tersungkur sebagai seorang syahid di medan perang.

Sedangkan   anaknya   yang   bernama   ‘Amr  masih   terus   berperang sehingga   sekujur   tubuhnya   penuh   dengan   luka   dan   telapak   tangan kanannya putus. Ia pun kembali ke Madinah dari Al Yamamah tanpa ayah dan telapak tangannya.

Pada masa kekhalifahan  Umar bin Khattab, ‘Amr bin Thufail datang menghadap.  Saat itu Umar sedang mendapat  makanan,  dan banyak orang yang berada di sekelilingnya. Umar mengajak semua orang tadi untuk menikmati  makanannya.  ‘Amr menolak undangan  makan  itu.

Umar lalu berkata  kepadanya:  “Apa yang terjadi denganmu…  apakah  engkau  tidak mau makan karena merasa malu karena tanganmu.”  Ia menjawab: “Benar, ya  Amirul  Mukminin.”

Umar  berkata:  “Demi  Allah,  aku  tidak  akan mencicipi makanan  ini hingga ia tersentuh  oleh tanganmu  yang buntung itu… Demi Allah tidak ada seorangpun di kaum ini yang sebagian anggota tubuhnya berada di surga selain kamu, (maksudnya adalah tangan ‘Amr).

Impian untuk mendapatkan  syahadah (mati syahid) terus membayangi

‘Amr sejak ia berpisah  dengan  ayahnya.  Begitu perang  Yarmuk meletus,

‘Amr segera menyambutnya dengan orang-orang lain yang bersemangat. Ia terus  saja  berperang   sehingga  ia  mendapatkan   syahadah  seperti  yang didapatkan ayahnya.

Semoga Allah merahmati  Al Thufail bin  ‘Amr Al Dausy; dia  adalah seorang syahid ayah dari seorang syahid.

Baca juga Kisah Sahabat Nabi SAW: Anas Bin Malik Al Anshary

Untuk  dapat  mengenal  sosok Thufail bin  ‘Amr Al  Dausy lebih  jauh dapat merujuk ke:

  1. Al Ishabah 2/ 225 atau tarjamah 4254
  2. Al Isti’ab (ala Hamisy al Ishabah) 2/230
  3. Usudul Ghabah 3/54-55
  4. Shifatus Shafwah 1/ 245-246
  5. Siar A’lam An Nubala 1/248-250
  6. Mukhtashar Tarikh Dimasyq 7/ 59-64
  7. Al Bidayah  wa An Nihayah 6/337
  8. Syuhada Al Islam 138-143
  9. Sirah Bathal karya Muhammad Zaidan yang diterbitkan oleh Al Dar Al Su’udiyah  tahun 1386 H.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: