Kisah sahabat Nabi Anas bin Malik Al Anshary

5 min read

Anas-bin-Malik-Al-Anshary
Advertisements

“Allahumma Urzuqhu  Maalan wa  Waladan  wa  Baarik Lahu (Ya Allah berikanlah ia harta dan keturunan dan berkahilah dirinya).” (Doa Rasul Saw baginya)

Anas bin Malik masih dalam usia belia saat ibunya yang bernama  Al Ghumaisha’1 mengajarkan  kepadanya syahadatain (dua kalimat syahadat). Al Ghumaisha’ mengisi hati  Anas untuk  mencintai  Sang Nabi pembawa ajaran Islam yang bernama Muhammad bin Abdillah alaihi afdhalus shalati wa azkas salam.

Anas  pun  langsung  tertarik  untuk   mendengarkan.   Tidak mengherankan,  terkadang telinga dapat membuat seseorang menjadi jatuh cinta  sebelum  pandangan  mata  menyaksikan…  Betapa anak  yang  masih dalam usia belia ini berharap  untuk pergi menjumpai Nabinya yang berada di Mekkah, atau Rasul Saw berkenan untuk mengunjungi mereka di Yatsrib agar ia puas melihatnya dan bergembira karena telah berjumpa dengannya.

Tidak  lama  berselang  hingga  di  kota  Yatsrib   yang  beruntung   ini tersebar kabar bahwa Nabi Saw dan sahabatnya yang bernama  As Shiddiq (Abu Bakar) sedang dalam perjalanan menuju Yatsrib… Maka setiap rumah menjadi ceria karenanya. Setiap relung hati manusia pun menjadi gembira dibuatnya…

Semua  mata   dan   hati   manusia   menjadi   tertarik   untuk   menanti perjalanan   yang  disusuri  oleh  Nabi  Saw dan  sahabatnya  menuju  kota Yatsrib.

Para remaja  setiap  pagi  berteriak:  “Muhammad  telah  datang!”  Anas bersama bocah-bocah  kecil lainnya berlari menuju ke sumber suara; akan tetapi  ia tidak mendapati  apa-apa  dan  akhirnya  ia kembali dengan  hati yang sedih.

Di suatu pagi yang cerah dan segar, beberapa orang pria di kota Yatsrib berteriak  seraya mengatakan  bahwa  Muhammad  dan seorang sahabatnya hampir tiba di Madinah.

Serentak  beberapa  orang  pria  dewasa  bergerak  menuju  jalan  yang disusuri oleh Nabi Saw…

Mereka semua bergegas secara berbondong-bondong berlari menghampiri Nabi Saw dan di antara mereka juga banyak anak dalam usia belia yang dengan wajah berseri dan hati bahagia pergi menyongsong kedatangan sang Nabi Saw.

Di barisan  para  anak  usia belia tersebut  terdapat  seorang  anak  yang bernama Anas bin Malik Al Anshary.

Tibalah Rasul Saw beserta sahabatnya  As Shiddiq. Mereka berdua  tiba dengan sambutan  meriah yang diberikan penduduk  Madinah yang penuh sesak terdiri dari para pria dewasa dan anak-anak.

Sedang para  ibu  dan  gadis berada  di atap  rumah,  memandang  dari kejauhan datangnya sang Rasul Saw. Mereka bertanya-tanya:  “Yang mana Rasul…. Yang mana Rasul?”

Hari  itu  menjadi  sejarah…  Anas masih  terus  mengenangnya  hingga pada usianya yang lebih dari 100 tahun.

Baru saja Rasulullah  Saw hendak  tinggal  dan  menetap  di Madinah; datanglah  Al Ghumaisha’ binti Milhan ibunya Anas menghadap  Beliau. Al Ghumaisha’ membawa anaknya yang masih kecil yang diajak untuk menghadap Rasulullah. Saat itu Anas berambut poni dengan uraian rambut kecil yang bergerak ke kanan dan ke kiri menutupi keningnya…

Lalu Al Ghumaisha’ memberi salam kepada Nabi Saw seraya berkata: “Ya Rasulullah… Tidak ada seorang pria dan wanita pun dari suku Anshar yang menghadapmu  kecuali mereka memberikan  hadiah  kepadamu.  Aku tidak  memiliki  apa-apa   untuk   dijadikan  hadiah   selain  anak  ini  saja… Ambillah ia dan jadikanlah ia pembantu sesuka hatimu!”

Nabi  Saw  gembira  mendengarnya   dan  Beliaupun  menerima   Anas dengan  wajah  yang  sumringah.   Beliau  membelai  kepala  Anas  dengan tangan Beliau yang mulia. Beliau juga membelai rambut poni Anas dengan jari  Beliau yang  lembut.  Akhirnya  Rasul Saw menerima  Anas menjadi anggota keluarganya.

Anas  atau  Unais  sebagaimana  penduduk   Madinah   memanggilnya dengan panggilan  manja-  saat itu berusia 10 tahun  saat ia mulai bahagia dapat membantu Nabi Saw. Ia terus tinggal dalam asuhan Nabi Saw hingga Beliau dipanggil oleh Allah Swt.

Anas mendampingi Nabi Saw selama 10 tahun, dimana ia mendapatkan petunjuk   langsung  dari  Nabi  Saw  untuk   mensucikan  dirinya.  Ia  juga menerima  seluruh  hadits Rasulullah sehingga memenuhi  ruang  dadanya. Anas juga mengetahui  kondisi, cerita, rahasia dan kebiasaan terpuji Beliau yang jarang diketahui oleh orang lain.

Anas dalam  pergaulannya  dengan  Nabi Saw mendapatkan  apa  yang tidak didapat  oleh seorang  anak  dari  ayahnya.  Ia juga  menemukan  dari keagungan sifat Rasul yang membuat seluruh dunia merasa iri kepadanya.

Mari  kita  persilahkan  Anas untuk  bercerita  tentang  beberapa  kisah menarik  dari  pergaulannya   dengan  Rasul Saw yang  ia  dapatkan  dalam asuhan Beliau. Ia amat mengetahui  hal ini, dan untuk menceritakannya  ia amat berkompeten…

Anas bin Malik berkata: “Rasulullah Saw adalah  manusia  yang paling baik akhlaknya, Beliau adalah manusia yang paling lapang dada dan Beliau adalah manusia yang paling penyayang…

Beliau pernah  menyuruhku  untuk membeli sesuatu dan akupun  keluar untuk  membelinya. Di tengah  jalan Aku berniat  untuk  bermain  bersama para anak-anak  di pasar dan aku tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Rasul kepadaku.

Saat aku sudah bertemu dengan anak-anak  tadi aku merasakan  ada seorang pria  yang berdiri  di belakangku,  dan ia menarik bajuku…  Aku menoleh  ke belakang,  ternyata  ia  adalah  Rasulullah Saw. Beliau  tersenyum   seraya   berujar:   “Wahai   Unais,  apakah   kau   sudah melakukan apa yang aku suruh?”  Aku menjadi grogi dan berkata: “Baik… aku akan melakukannya sekarang, Ya Rasulullah….”

Demi Allah, aku  sudah  membantu  Beliau 10  tahun  lamanya,  namun atas  apa  yang  aku  lakukan  sepanjang  itu  Beliau tidak  pernah  berkata: “Mengapa  kau  lakukan  ini?”  Dan  Beliau tidak  pernah  berkata  atas apa yang tidak aku kerjakan: “Mengapa kau tidak mengerjakannya?”

Rasulullah  Saw  jika  memanggil  Anas  maka  Beliau  memanggilnya dengan  panggilan  manja  dan  kasih  sayang;  terkadang  Beliau memanggilnya  dengan  Unais. Kadang kala Beliau memanggilnya  dengan

‘Anakku’.

Sering  kali   Rasulullah   memberikan   nasehat   dan   wejangan   yang memenuhi  relung  hati  dan  sanubari  Anas. Salah satunya  adalah  nasehat Beliau kepada Anas:

“Anakku, bila kau mampu berada di pagi dan sore hari tanpa ada dengki di hatimu pada siapapun, maka lakukanlah…! Anakku, yang demikian       adalah    termasuk    sunnahku,    barang    siapa    yang menghidupkan sunnahku maka ia telah mencintaiku… barang siapa yang mencintaiku     maka     ia    akan     berada     di     surga bersamaku…Anakku, jika kau masuk ke dalam rumah  ucapkanlah salam karena itu akan membawa keberkahan bagimu dan juga bagi penghuni rumahmu.”

Setelah Rasulullah Saw wafat Anas bin Malik masih hidup lebih dari 80 tahun  lamanya; Sepanjang itu ia mengisi ruang  hatinya dengan ilmu dari Rasulullah  Saw, dan  ia  mencoba  mengasah  otaknya dengan  fikih  yang diajarkan  oleh  Nabi  Saw.

Dalam  masa  yang  sepanjang  itu,  Anas telah banyak menghidupkan  hati para sahabat dan tabi’in2 dengan petunjuk dan ajaran Nabi Saw.  Ia juga sering memberitahukan  kepada orang lain sabda dan kebiasaan Rasulullah Saw.

Dalam usia panjang  yang dimilikinya ini, Anas menjadi referensi bagi kaum   muslimin   saat   itu.  Mereka   akan   mengadukan    permasalahan kepadanya  setiap  kali  mereka  merasakan  kesulitan.

Setiap kali  merasa bingung memutuskan suatu persoalan hukum mereka datang kepada Anas dan percaya atas apa yang ia putuskan.

Salah satunya  adalah  sebagian orang  yang memperdebatkan  masalah agama tentang kebenaran  adanya telaga Nabi Saw di hari kiamat. Mereka bertanya  kepada  Anas  tentang  hal  tersebut.

Anas  berujar:  “Aku  tidak pernah   menduga   bahwa   aku  akan  hidup   untuk   melihat  orang-orang sepertimu   yang  memperdebatkan   masalah  telaga  Rasul.

Telah  banyak wanita-wanita tua sebelumku, dimana setiap kali ia melakukan shalat pasti ia berdoa kepada Allah agar diberikan air minum dari telaga Nabi Saw.”

Anas masih terus  hidup  dengan  kenangan  indah  bersama  Rasulullah Saw sepanjang umurnya.  Ia amat bahagia di hari saat ia berjumpa dengan Beliau. Begitu terguncang  saat berpisah. Ia sering kali mengulangi pembicaraan   tentang  hal  tersebut…  Anas begitu  keras  untuk  berusaha mencontoh Rasulullah Saw dalam perbuatan  dan ucapannya.

Ia menyukai apa yang disukai Nabi Saw, dan membenci apa yang Beliau benci. Hal yang paling sering ia ingat saat bersama Nabi Saw adalah 2 hari: Hari pada kali pertama ia berjumpa dengan Nabi Saw, dan hari dimana Beliau wafat pada terakhir kali.

Jika ia mengenang hari pertama ia berjumpa Rasul, ia menjadi gembira dan  semangat  seolah  ia  menghirup  aroma  yang  semerbak.  Namun  bila terbersit dalam benaknya hari yang kedua, ia menjadi sedih dan menangis. Malah ia mampu membuat manusia  yang berada  di sekelilingnya saat itu menjadi menangis.

Sering kali ia berkata: “Aku melihat Nabi Saw saat Beliau datang kepada kami, dan  akupun  melihatnya  saat Beliau wafat. Sampai kini aku belum menemukan  hari lain seperti kedua hari tersebut.

Pada hari Beliau datang ke  Madinah,  Beliau  mampu  menerangi   semuanya…  dan  pada  hari  ia hampir melangkah menuju sisi Tuhannya, maka seolah semuanya menjadi gelap. Kali terakhir aku melihat Beliau adalah hari Senin di saat tirai kamar Beliau di buka.

Aku melihat wajah Beliau seolah lembaran kertas. Saat itu semua orang  berdiri  di belakang Abu Bakar seraya memandang  ke arah Beliau. Hampir saja  mereka  tak  kuasa  menahan   diri.  Lalu Abu Bakar memberi  isyarat  kepada  mereka  untuk tenang.

Lalu wafatlah  Rasulullah Saw di penghujung  hari  itu. Kami belum  pernah  melihat  pemandangan yang  lebih  menakjubkan   hati  kami  melebihi  wajah  Beliau  saat  kami mengubur jasad Beliau dengan tanah.”

Rasulullah Saw sering kali mendo’akan Anas bin Malik.. Salah satu doa Beliau untuknya  adalah: “Allahumma Urzuqhu Maalan wa Waladan, wa Baarik Lahu (Ya Allah, berikanlah ia harta dan keturunan,  dan berkahilah hidupnya).”

Allah mengabulkan  doa Nabi-Nya, dan Anas menjadi orang dari suku Anshar yang paling  banyak  hartanya.  Ia memiliki keturunan  yang amat banyak,  sehingga  bila  ia  melihat  anak  serta  cucunya  maka  jumlahnya melebihi 100 orang.

Allah Swt memberikan keberkahan  pada umurnya  sehingga ia hidup 1 abad lamanya ditambah 3 tahun lagi.

Anas ra senantiasa berharap  syafaat Nabi Saw untuk dirinya pada hari kiamat.  Sering kali  ia  berucap:  “Aku berharap   dapat  berjumpa  dengan Rasulullah  Saw  pada  hari  kiamat  sehingga  aku  dapat  berkata  kepada Beliau: “Ya Rasulullah, inilah pembantu kecilmu, Unais.”

Ketika  Anas  mulai  jatuh   sakit  menjelang  kematiannya,   ia  berujar kepada  keluarganya:  “Talqinkan  aku  kalimat  La ilaha  illahu, Muhammadun Rasulullah.” Ia terus mengucapkan  kalimat tadi hingga  ia mati.

Ia berwasiat  kepada  keluarganya  tentang  sebuah  tongkat  kecil milik Rasulullah  Saw  agar   tongkat   tersebut   dikuburkan   bersamanya.   Maka tongkat itupun diletakkan di sisi tubuh dan bajunya.

Selamat kepada  Anas bin  Malik  atas  anugerah   kebaikan  yang  telah Allah berikan  kepadanya.  Ia pernah  hidup  dalam  bimbingan  Rasulullah Saw 10  tahun  lamanya. Ia juga termasuk  perawi  hadits Rasul terbanyak pada urutan  ketiga setelah Abu Hurairah  dan Abdullah bin Umar.

Semoga Allah Swt membalas kebaikan dirinya dan ibunya yang bernama Al Ghumaisha atas jasa baik yang mereka lakukan terhadap  Islam dan kaum muslimin.

Untuk mengenal lebih dekat profil Anas bin Malik dapat merujuk ke:

  1. Al Ishabah 1/71 atau profil hal 277
  2. Al Isti’ab (Hamisy Al Ishabah) 1/71
  3. Tahdzhib Al Tahdzhib: 1/376.
  4. Al Jam’u baina Al Rijal Al Shahihin: 1/35
  5. Usudul Ghabah: 1/258
  6. Shifatus Shafwah: 1/298.
  7. Al Ma’arif:  133
  8. Al Ibar: 1/107
  9. Sirah Bathal: 107
  10. Tarikh Al Islam Al Dzahaby: 3/329
  11. Ibnu Asakir: 3/139
  12.  Al Jarh wa Al Ta’dil: bagian 1 jilid 1/286

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: